Karena Ibu Adalah Segalanya Bagiku

WARGANET MEDSOS
SHARE

36 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

WARGANET MEDSOS – Alhamdulillah, Allah memberi nikmat begitu banyak padaku. Hingga saat ini aku bisa melihat wajah Ibu. Aku masih bisa merasakan kasih sayang Ibu. Aku masih bisa sholat bersama Ibu. Tak sedikit teman-temanku yang tidak seberuntung diriku. Sebuah kenikmatan sekaligus ladang pahala terbesar dalam hidupku.

Di usiaku yang beranjak remaja, Ibu menitipkanku ke sebuah pesantren. Ibu mendorong dan meyakinkan aku untuk belajar di sana. Ibu lebih rela melepasku untuk berkembang di lingkungan yang luar biasa baiknya. Beliau korbankan waktu bersama denganku demi masa depanku sendiri.

Setiap kali ada waktu kunjungan, Ibu selalu menyelipkan surat kecil di antara barang-barang yang dibawa. Isinya nasehat-nasehat Ibu. Terkadang hanya berisi nasehat untuk menjaga kebersihan badan, rajin olahraga, makan teratur atau rajin belajar. Aku sering tertawa ketika diberi surat-surat itu karena semua yang tertulis sudah diceritakan Ibu saat kunjungan. “O iya ya,” Ibu tertawa kecil. “Tapi nanti kamu lupa gimana?”. Aku menjawab, “Iya juga ya, kalau gitu nggak papa deh dikasih surat. Kalau Ibu lupa mau ngomong apa kan bisa lihat suratnya,” Aku dan Ibu tertawa. Tanda cinta yang begitu istimewa.

Kuakui pula Ibu sering nekat. Tapi itu bukan tanpa alasan. Pernah suatu saat pesantren mendadak libur. Santri SMA pulang untuk pemilu dan santri SMP kelas 7 dan 8 pergi berkemah. Kelas 9 akhirnya mendapat jatah pulang untuk libur sebelum ujian nasional. Ketika itu aku kelas 9. Rumahku jauh sehingga aku memutuskan untuk tidak pulang walau jatah liburan cukup panjang, sekitar empat hari. Kupikir teman-temanku yang berasal dari luar daerah juga tidak pulang. Tapi ternyata tidak. Hampir semua dari mereka berencana pulang. Teman dekatku pun juga pulang.

Hingga hari kepulangan tiba, aku memastikan tidak ada yang tidur di pesantren malam nanti. Aku bingung. Aku tak punya pilihan selain pulang. Tapi aku tak boleh pulang tanpa wali. Akhirnya aku menelepon Ibu. Aku ceritakan semua padanya. Mungkin, Ibu akan menyarankan agar aku menginap di rumah teman. Tapi tidak. Ibu akan menjemputku seorang diri karena Ayah sedang dinas di luar kota.

Ibu yang ketika kutelepon berada di pasar, segera menaruh belanjaannya lalu berangkat ke terminal. Setelah turun dari bus pertama, lanjut ke bus kedua. Hingga ketika harus mencari bus ketiga yang menuju pondok, ternyata sudah habis. Hanya ada bus tentara yang tentu saja tak boleh ada orang luar menumpang. Aku tak tahu bagaimana caranya Ibu memaksa agar beliau bisa ikut menumpang. Demi aku, Ibu rela melakukan segalanya.

Aku bertemu dengan Ibu jam lima sore. Ibu langsung mengajakku pulang, tentu saja dengan menaiki bus lagi. Namun perjalanan kian berat karena bus sudah jarang beroperasi. Tak ada bekal. Kami hanya membeli biskuit di jalan, sekedar pengganjal lapar. Akhirnya kami sampai di rumah tepat pukul satu pagi. Rasa letih pun sirna karena bertemu dengan Ibu.

Ibu tak mau aku larut dalam kesedihan. Namun ada kalanya Ibu membiarkanku bersedih agar meresapi kehidupan atau bahkan menyesali kesalahan yang telah kuperbuat. Ada sebuah rahasia yang dipendam Ibu. Ibu tak pernah menangis di hadapanku walau harus berpisah dalam waktu yang cukup lama. Aku tahu sebenarnya Ibu berusaha menahan tangis. Ibu tak mau aku ikut bersedih. Andai Ibu tahu, aku juga menahan tangis karena ingin menjadi wanita sehebat Ibu.

Bersama Ibu Tercinta

Karena Ibu, aku tahu dunia untuk bekal akhirat. Ibu menuntunku menjadi orang baik, bahkan harus lebih baik dari dirinya sendiri. Karena Ibu aku tersenyum. Karena Ibu aku menangis. Karena Ibu aku berani. Karena Ibu adalah segalanya bagiku.

Maafkan aku Bu, ku tak kan pernah bisa membalas semua kebaikanmu. Hanya doa yang dapat kupanjatkan agar engkau selalu memperoleh barokah di sisi-Nya.

Ya Allah, sayangilah Ibu dan Ayah kami sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil…

Penulis : Instagram @kaimaishmata

Mahasiswi UNSRI ( Kedokteran )

Facebook Comments

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *